Tuesday, March 26, 2024

Kerajaan Indonesia (Singhasari)

 Singhasari;

Nama kerajaan:

Singasari 

(Jawa Timur Malang)


Kehidupan Sosial Budaya:

Terdapat banyak sekali ahli sastra yang lahir(salah satu karya sastra yang lahir Kekawin Nagarakretagama) filsafat. Pada saat itu agama Hindu dan Buddha hidup berdampingan tanpa adanya perselisihan sehingga melakukan akulturasi. Kehidupan Sosial Kerajaan Singasari mengalami pasang surut. 


Kehidupan Politik:

Ken Arok 1222 - 1227 M (Kejayaan)

Anusapati 1227 - 1248 M 

Tohjoyo 1248 M 

Ronggowoni/Wisnuwardhana1248 - 1268 M (Kejayaan)

Kertanegara 1268 - 1292 (Kejayaan - Keruntuhan)


Keadaan Politik: berkembang pesat pada masa kepemimpinan Raja Kertanegara.

Adapun politik dalam negeri yang dilakukan antara lain yaitu dengan mengganti pejabat pembantunya. Tak hanya itu, untuk memperkuat lagi kekuasaannya, Ia juga melakukan pernikahan politik dan memperkuat aspek angkatan perang. Politik luar juga dilakukan salah satunya dengan ekspedisi Pamalayu


Kehidupan Ekonomi:

Untuk kehidupan ekonomi saat zaman Kerajaan Singasari tergolong cukup maju. Karena letaknya yang sangat strategis yaitu berada di lembah sungai Brantas, hal ini menjadikan tanah yang ada di kawasan tersebut menjadi sangat subur. 


Oleh karena itulah, mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai seorang petani, dibantu dengan Sungai Brantas yang menjadi salah satu lalu lintas perdagangan antardaerah dan wilayah di nusantara


Prasasti Peninggalan Kerajaan Singasari:

Arca Kem Dedes, Arca Anusapati, Arca Joko Dolog, Candi Kidal, Candi Singasari, Candi Jago, Prasasti Mula Malurung (1255 M), dan Prasasti Camundi (1292 M)

Kerajaan Indonesia (Tarumanegara)

 Tarumanegara;

*Kerajaan Tarumanegara*(Jawa Barat)


Sumber sejarah:

Bukti peninggalan Kerajaan Tarumanegara salah satunya adalah prasasti yang ditulis dalam huruf Pallawa dengan bahasa Sansekerta. Berikut adalah daftar prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara.


1.Prasasti Ciareteun, ditemukan di Ciampea, Bogor.

2.Prasasti Pasir Koleangkak, ditemukan di sebelah barat kota Bogor.

3.Prasasti Kebon Kopi, ditemukan di kampung Muara Hilir, Cibungbulang.

4.Prasasti Tugu, ditemukan di daerah Tugu, Jakarta.

5.Prasasti Pasir Awi, ditemukan di daerah Pasir Awi, Bogor.

6.Prasasti Muara Cianten, ditemukan di daerah Bogor.

7.Prasasti Cidanghiang atau Lebak.


Peninggalan Berupa:

Candi, Situs Batujaya, Candi Cibuaya, Arca Rajarsi, Arca Wisnu Cibuaya, Arca Wisnu Cibuaya II, Naskah Wangsakerta.


Kehidupan Politik:

Semasa berdiri, Tarumanegara dipimpin oleh oleh 12 raja yaitu:


•Jayasingawarman (358-382 M)

•Dharmayawarman (382-395 M)

•Purnawarman (395-434 M)

•Wisnuwarman (434-455 M)

•Indrawarman (455-515 M)

•Candrawarman (515-535 M)

•Suryawarman (535-561 M)

•Kertawarman (561-628 M)

•Sudhawarman (628-639 M)

•Hariwangsawarman (639-640 M)

•Nagajayawarman (640-666 M)

•Linggawarman (666-669 M)


Kehidupan Ekonomi:

•Perburuan

•Pertambangan

•Perikanan

•Perniagaan

Kerajaan Indonesia (Bali)

 Bali; 

KERAJAAN BALI





SUMBER SEJARAH


1.prasasti blanjong:


Prasasti Blanjong adalah peninggalan bersejarah yang memuat pesan berbahasa Bali dan dibuat oleh Sri Kesari Warmadewa. Prasasti ini ditemukan di Sanur Kauh, Denpasar Selatan.


2. prasasti panglapuan:


Prasasti Panglapuan adalah peninggalan kerajaan Bali yang berisi pesan tentang para penguasa kerajaan seperti Udayana, Jayapangus dan Anak Wungsu.


3. prasasti anak wungsu:


Prasasti Anak Wungsu adalah peninggalan dari Raja Anak Wungsu yang berjumlah 28 buah. Selain prasasti, ada Goa Gajah, Pura Gunung Penulisan, dan Pura Gunung Kawi.



NAMA NAMA RAJA


Sri Kesari Warmadewa (913-914 M)


Sri Ugrasena (915-942 M)


Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmadewa (955-967 M)


Indrajayasingha Warmadewa/Candrabhaya Singha Warmadewa (956-974 M)


Janasadhu Warmadewa (975-983 M)


Sri Wijaya Mahadewi (983-989 M)


Gunapriya Dharmapatni/Dharmo Udayana Warmadewa (989-1011 M)


Sri Ajnadewi (1011-1016 M)


Dharmawangsa Wardhana Marakatapangkaja/Marakata Pangkaja Sthana Tunggadewa/Paduka Haji Sri Dharmawangsawardhana (1016-1025 M)


Anak Wungsu (1025-1077 M)


Sri Maharaja Walaprabhu (1079-1088 ΠΌ)


Sri Maharaja Sakalendukirana Laksmidhara Wijayatunggadewi (1088-1101 M) Sri Maharaja Sri Suradhipa (1115-1119 M)





EKONOMI


Kehidupan Ekonomi Kerajaan Bali Sejak abad ke-10, masyarakat Bali telah mengembangkan sistern pertanian sebagai pilar utama perekonomiannya. Para raja di Bali memusatkan perhatian ekonomi pada sektor pertanian, dengan mayoritas penduduknya terlibat dalam pengelolaan sawah, ladang, dan perkebunan.


Selain sektor pertanian, aktivitas peternaken dan perburuan juga berkembang pesat, sementara sebagian warga Bali lainnya terilhat dalam kerajinan emas dan porak.


Kehidupan sosial di Kerajaan Bali sangat terkait dengan warisan adat istiadat yang telah mengakar sejak zaman dahulu. Bahkan hingga saat ini, tradisi turun temurun ini terus dilestarikan





SOSIAL BUDAYA


Struktur masyarakat pada masa Kerajaan Bali didasarkan atas empat hal, yaitu pembagian golongan dalam masyarakat, pembagian warisan, kesenian, serta agama dan kepercayaan. Golongan masyarakat dibagi dua, yaitu caturwarna (empat kasta dalam agama Hindu) dan golongan luar kasta yang disebut jaba. Pembagian hak waris, anak laki-laki memiliki hak lebih besar dari perempuan. Kesenian, dibedakan antara seni keraton dan seni rakyat. Agama dan kepercayaan, masyarakat menyembah banyak dewa yang bukan hanya berasal dari dewa Hindu dan Buddha, tetap dari kepercayaan animisme. Disamping itu, raja memberi kebebasan kepada rakyatnya untuk mengeluarkan pendapat mengenai kehidupan kerajaan. Demikian juga dengan peraturan-peraturan lainnya, seperti perkawinan, kematian, warisan, budak, peternakan, dan perpindahan penduduk.

Kerajaan Indonesia (kediri)

 Kediri; 

Kerajaan Kediri


1. **Kehidupan Sosial-Budaya:**

   - Kediri merupakan pusat kebudayaan Hindu-Buddha yang berkembang pesat. Agama Hindu-Buddha memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kediri, mempengaruhi kebiasaan, tradisi, dan struktur sosial.

   - Kehidupan sosial masyarakat Kediri dipengaruhi oleh kelas sosial yang terbagi, seperti para bangsawan, pedagang, petani, dan rakyat jelata.

   - Kediri juga dikenal karena seni dan arsitekturnya yang berkembang, dengan bangunan candi dan relief yang menggambarkan ajaran agama Hindu-Buddha serta kehidupan sehari-hari masyarakat.


2. **Kehidupan Politik:**

   - Politik di Kerajaan Kediri diatur oleh sistem monarki, di mana raja atau ratu memegang kekuasaan tertinggi. Raja Kediri dikenal sebagai Sri Maharaja yang memerintah dari ibu kota kerajaan di Kediri.

   - Raja Kediri memiliki kendali atas wilayah kerajaan dan menjalankan kebijakan politik, termasuk diplomasi dengan kerajaan tetangga dan pengaturan perdagangan.


• 1042-1117

Mahapanji Garasakan 

• 1117-1130

Bameswara

• 1135-1157

Jayabhaya

• 1159-1169

Sarweswara

• 1169-1174

Arryeswara

• 1182-1194

Kameswara

• 1194-1222

Kertajaya/Srengga



3. **Kehidupan Ekonomi:**

   - Ekonomi Kediri didukung oleh pertanian yang subur dan perdagangan yang berkembang. Tanah yang subur memungkinkan pertanian padi, jagung, dan rempah-rempah tumbuh subur.

   - Kediri juga dikenal sebagai pusat perdagangan penting di Jawa, terutama dalam perdagangan rempah-rempah, kain, logam, dan barang-barang mewah lainnya.

   - Sistem mata uang dan perdagangan yang berkembang memfasilitasi pertukaran barang dagangan antara Kediri dengan kerajaan lain di Nusantara dan Asia Tenggara.

Kerajaan Indonesia (Melayu)

 Melayu; 

KERAJAAN MELAYU


Lokasi : Pulau Sumatra

Tahun : abad ke-7 [ Minanga ], abad ke-13 [ Dharmasraya], abad ke-15 [ Suruaso/Pagaruyung ] 


Kehidupan ekonomi : Perdagangan


Kehidupan sosial : bangsawan menganut agama Buddha, Rakyat memeluk kepercayaan tradisional


Kehidupan Budaya : memiliki seni dan religi yang tinggi, bukti:

1. prasasti grahi

2. prasasti Padang roco

3. prasasti suruaso

4. arca amoghapasa


Kehidupan politik

1. Tahun 1183Srimat Trailokyaraja M.WPrasasti Grahi 

2. tahun 183 di Selatan Thailand

3. Tahun 1286Srimat Tribhuwanaraja M.WPrasasti Padang Roco 

4. tahun 1286 di Siguntur (Kab Dharmasraya )

5. Tahun 1316AkarendwarmanPrasast Suruaso 

6. tahun 1316( Kab. Tanah Datar)

7. Tahun 1347Srimat SriUdayadityawarmanArca Amoghapasa

8. tahun 1347 di Kab.Dharmasraya (sekarang)

9. Tahun 1375AnanggawarmanPrasasti Batu Sangkar 

10. tahun 1375 di Kab. TanahDatar (sekarang)

Kerajaan Indonesia (Sriwijaya)

 Sriwijaya;

Kerajaan Sriwijaya


Awal mula masa Sriwijaya adalah kerajaan bahari historis yang berasal dari Pulau Sumatra sekitar abad ke-7 sampai abad ke-11. Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" atau "gemilang", dan vijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan"; dengan demikian, nama Sriwijaya bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang".ibukota Sriwijaya dapat dengan akurat disimpulkan berada di Kota Palembang, tepatnya di muara Sungai Musi.


banyak bukti sejarah yang dapat di jadikan bukti bahwa Kerajaan Sriwijaya pernah ada, ditemukan di tepi sungai Batang, Kedukan Bukit, Kota Palembang Sumatera Selatan. Pada prasasti ini, terdapat angka 686 yang diketahui sebagai tahun ditulisnya huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta.




Kehidupan Sosial Budaya

Kehidupan Sosial Kerajaan Sriwijaya


Kehidupan sosial masyarakat di Kerajaan Sriwijaya berbaur der para pedagang dari luar, karena saat itu wilayah tersebut merupakan pelabuhan bagi kapal-kapal asing yang singgah. Kemungkinan bahasa yang berkembang adalah bahasa melayu kuno, mereka menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi dengan para pedagang.


Budaya asing, khususnya dari India berkembang di wilayah Sriwijaya. Contohnya penggunaan nama-nama khas India dan pengaruh agama Hindu-Budha semakin menyebar menyeluruh, baik masyarakat maupun di dalam kerajaan. I Tsing, orang China yang pernah singgah di Kerajaan Sriwijaya juga menjelaskan bahwa

banyak para pendeta dari luar yang

 berdatangan untuk berguru/belajar bahasa Sanskerta dan mempelajari kitab suci agama Budha


kehidupan politik.

kehidupan sosial politik kerajaan sriwijaya. ukus utama terkait kehidupan politik Kerajaan Sriwijaya yaitu wilayah kekuasaan, raja-raja yang memerintah, dan hubungan dengan kerajaan lain baik dalam dan luar negeri. Berdasarkan bukti yang ada dari isi prasasti Leiden, Kerajaan Sriwijaya telah melakukan kerjasama dengan kerajaan Chola di India. Hubungan baik dengan kerajaan tersebut ditandai dengan pengiriman pendeta dari Sriwijaya ke India dan pembuatan Biara untuk pendeta tersebut.


Kehidupan Ekonomi

Kerajaan Sriwijaya kehidupan ekonominya berkembang pesat berkat letaknya yang sangat strategis.Lokasinya yang berada di tepi Sungai Musi dan tidak jauh dari Selat Malaka membuat Sriwijaya berada di daerah lintasan pelayaran dan perdagangan internasional. Pada masa itu, aktivitas perdagangan antara India dan China melalui Selat Malaka sangat ramai, yang membawa keuntungan bagi Kerajaan Sriwijaya. Tidak jarang pula, kapal-kapal yang singgah tersebut melakukan aktivitas perdagangan.Para pedagan asing yang singgah dapat menukarkan aneka porselen, tembikar, kain katun dan sutra, dengan barang dagangan penduduk Sriwijaya yang mayoritas hidup di sektor perdagangan pula. Barang dagangan Sriwijaya yang termasuk komoditas berharga meliputi emas, perak, gading gajah, penyu, kemenyan, kapulaga, kapur barus, pinang, kayu gaharu, cendana, lada, dan damar.Dalam perkembangannya, Kerajaan Sriwijaya menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka.

Kerajaan Indonesia (Majapahit)

 Majapahit;

Kerajaan Majapahit


Sumber sejarah:

1. Prasasti Butak(1294) yang memuat peristiwa runtuhnya Kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya dalam mendirikan Kerajaan Majapahit. 

2. Kidung Harsawijaya dan Panji Wijayakrama yang memuat upaya Raden Wijaya dalam menghadapi musuh dari Kediri dan tahun-tahun awal perkembangan dari Kerajaan Majapahit. 

3. Kitab Pararaton yang ditulis oleh Mpu Prapanca memuat pemerintahan raja-raja Singasari dan Majapahit.

 4. Kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca yang memuat perjalanan Hayam Wuruk di Jawa Timur.


Kehidupan Sosial Budaya : 

Kehidupan sosial budaya Kerajaan Majapahit yang berkembang yaitu seni ukir. Seni ukir yang berasal dari Kerajaan Majapahit menggambarkan alam dan fauna. Misalnya bunga, naga, burung, dan lain sebagainya. Selain sni ukir, budaya Kerajaan Majapahit juga berkembang pesat melalui seni arsitektur.


Kehidupan Politik : 

• 1293–1309

Raden Wijaya

• 1309–1328

Jayanagara

• 1328–1350

Tribhuwana Wijayatunggadewi

• 1350–1389

Hayam Wuruk

• 1389–1429

Wikramawardhana

• 1429–1447

Suhita

• 1447–1451

Kertawijaya

• 1451–1453

Rajasawardhana

• 1456–1466

Girishawardhana

• 1466–1468

Suraprabhawa

• 1474–1527

Girindrawardhana


Kehidupan Ekonomi :

-Pertanian

-Perdagangan

Kerajaan Indonesia (Padjajaran)

 Padjajaran; 

Kerajaan Padjajaran (Bogor, Jawa Barat)


Sumber Sejarah :

- Prasasti Cikapundung

- Prasasti Pasir Datar

- Prasasti Huludayueh

- Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis

- Prasasti Ulubelu

- Prasasti Kebon Kopi II

- Situs Karang Kamulyan

Kehidupan Sosial Budaya

Kerajaan Pajajaran memiliki kehidupan sosial yang unik dan terorganisir dengan baik. Kehidupan sosial masyarakat pada masa itu dapat dikelompokkan berdasarkan profesi atau fungsi dasar dari kelompok tersebut.

Kehidupan Politik

- Sri Jayabhupati ( 1030 - 1042 ) Pendiri

- Sri Baduga Maharaja (1482-1521) Kejayaan

- Surawisesa (1521-1535)

- Ratu Dewata (1535-1543)

- Ratu Sakti (1543- 1551)

- Ratu Nilakendra (1551-1567)

- Raga Mulya (1567-1579) Keruntuhan

Kehidupan Ekonomi

Pada masa kejayaan Kerajaan Pajajaran, kerajaan ini memiliki kondisi ekonomi yang cukup bagus sehingga rakyat hidup makmur dan sentosa. Pada saat itu, kondisi ekonomi Kerajaan Pajajaran ditopang dengan penjualan berbagai hasil dari pertanian. sektor pertanian dan peternakan sebagai sumber penghidupan utama bagi rakyatnya. Masyarakat Kerajaan Pajajaran yang terbiasa untuk bercocok tanam seperti beras, jagung, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan. Penghasilan terbesar yang menjadi komoditi utama ekspor Kerajaan Pajajaran ialah lada. Selain itu, pada masa dahulu Pajajaran memiliki enam buah pelabuhan dan itu sangat membantu pertumbuhan sektor ekonomi bagi kerajaan.

Kerajaan Indonesia (Mataram)

 Mataram kuno;

Nama kerajaan : Mataram Kuno


kehidupan sosial budaya : 

Kerajaan Mataram merupakan kerajaan 

bercorak Hindu-Buddha yang pernah berdiri antara abad ke-8 hingga abad ke-11. Selama tiga abad berdiri, ibu kota kerajaan sempat beberapa kali dipindah, dari Yogyakarta, Jawa Tengah, hingga akhirnya ke Jawa Timur.

Corak dari candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno ini beragam, ada yang bercorak Hindu dan ada juga yang bercorak Buddha.

Beberapa candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, di antaranya Candi Borobudur, Candi Kalasan, Candi Sewu, dan lain sebagainya

Salah satu hasil seni sastra yang menjadi peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno adalah Kitab Ramayana Kakawin.


Kehidupan sosial budaya :

Kehidupan sosial Kerajaan Mataram Kuno ditandai dengan adanya pembagian golongan masyarakat berdasarkan kasta, yakni kasta brahmana, ksatria, waisya, dan sudra.


Kehidupan politik :

kehidupan politik dinasti sanjaya


1) Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (717 – 746 M) 

2) Sri Maharaja Rakai Panangkaran (746 – 784 M)

3) Sri Maharaja Rakai Panunggalan (784 – 803 M)

4) Sri Maharaja Rakai Warak (803 – 827 M)

5) Sri Maharaja Rakai Garung (828 – 847 M)

6) Sri Maharaja Rakai Pikatan (847 – 855 M)

7) Sri Maharaja Kayuwangi (855 – 885 M)

8) Sri Maharaja Watuhumalang (894 – 898 M)

9) Sri Maharaja Watukura Dyah Balitung (898 – 913 M)


kehidupan politik dinasti Syailendra


1) Bhanu (752 – 775 M)

2) Wisnu (775 – 782 M)

3) Indra (782 – 812 M)

4) Samaratungga (812 – 832 M)



Kehidupan ekonomi : 

Bergerak di bidang pertanian

Kerajaan Indonesia (medang)

 Medang; 

namaa kerajaan : medan kamulan 

Sejarah: 

Sejarah Kerajaan Medang Kamulan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Medang Kamulan pertama kali berdiri di Jawa Timur ketika Mataram Kuno memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah. Nama Medang Kamulan berarti Medang adalah nama lain dari Mataram dan Kamulan berarti Pada Awalnya.

Adapun Kerajaan Medang Kamulan didirikan oleh Mpu Sindok pada abad ke-10.. Ia pun juga dijadikan sebagai raja pertama Medang Kamulan dan memimpin kerajaan selama kurang lebih 20 tahun, yakni mulai 929 M – 949 M.


Sumber sejarah : 

Prasasti Mpu Sindok (929 M), Prasasti Tengaran (928 M), Prasasti Lor (929 M), Prasasti Bangil (929 M), Prasasti Kalkuta (1041 M), dan Prasasti Mantyasih (907 M).


kehidupan sosial budaya : 

Kerajaan Medang Kamulan dalam mitologi Jawa sering kali dianggap sebagai masa kejayaan prakerajaan di Pulau Jawa, Indonesia. Kehidupan sosial budayanya diyakini memiliki banyak kemiripan dengan masyarakat Jawa pada umumnya, termasuk sistem kepercayaan, tradisi, dan struktur sosial. Ini termasuk praktik keagamaan animisme dan kepercayaan pada roh nenek moyang, tradisi upacara adat, dan mungkin juga adanya kasta atau kelas sosial. Namun, karena sifatnya yang legendaris, detail tentang kehidupan sosial budaya Kerajaan Medang Kamulan dapat bervariasi tergantung pada versi mitos dan cerita yang diceritakan oleh masyarakat Jawa.


kehidupan politik : 

Mpu Sindok

Dharmawangsa

Airlangga


Kehidupan ekonomi:

perdagangan 

pelayaran

Kerajaan Indonesia (kutai)

 Kutai; 

Kerajaan kutai (Kalimantan timur)


•Sumber Sejarah 


Bukti arkeologis keberapdaan Kerajaan ini adalah temuan prasasti yang ditulis di atas tujuh buah yupa(tugu batu). Prasasti tersebut ditemukan antara tahun 1879 dan 1940 di daerah hulu sungai Mahakam. Tujuh buah yupa tersebut ialah: 


1. Prasasti Muarakaman 1: yang berisi silsilah Raja Mulawarman, upacara selamatan yang diselenggarakan, dan pembangunan tugu batu sebagai peringatan.


 2. Prasasti Muarakaman 2: yang berisi cerita tentang kebaikan Raja Mulawarman dan pemberian sedekah berupa 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.

 

3. Prasasti Muarakaman 3: yang berisi pujian terhadap kebaikan dan kebesaran Raja Mulawarman serta pembangunan tugu sebagai tanda peringatan atas sedekah yang dilakukan.

 

4. Prasasti Muarakaman 4: yang berisi informasi yang tidak jelas karena hurufnya telah aus.

 

5. Prasasti Muarakaman 5: yang berisi peringatan atas dua sedekah yang diberikan oleh Raja Mulawarman, yaitu segunung minyak kental dan lampu dengan kelopak bunga.


6. Prasasti Muarakaman 6 : yang berisi ucapan selamat kepada Raja Mulawarman dan penyebutan pemberian persembahan kepada para Brahmana.

 

7. Prasasti Muarakaman 7 : yang berisi cerita tentang penaklukan Raja Mulawarman terhadap raja-raja lain, penyelenggaraan upacara, dan pemberian hadiah dalam jumlah besar, meskipun informasinya tidak lengkap karena kondisi prasasti yang tidak baik.




•Kehidupan Sosial Budaya


Dalam Prasasti Yupa tertulis bahwa masyarakat sudah banyak yang menganut agama Hindu, sehingga pola pengaturan kerajaan kepada masyarakat sangat teratur seperti pemerintahan Kerajaan India.


Masyarakat di Kerajaan Kutai dapat menerima unsur budaya luar (India), namun tetap memelihara dan melestarikan budayanya sendiri.


Contohnya prasasti berbentuk Yupa yang menggunakan huruf Pallawa menunjukkan adanya pengaruh dari India Selatan. Sedangkan Yupa sendiri merupakan bentuk perkembangan dari menhir, kebudayaan asli nenek moyang bangsa Indonesia zaman Megalitikum.


Kehidupan budaya Kerajaan Kutai juga sudah maju. Hal ini dibuktikan dengan upcacara penghinduan Vratyastoma. Di masa Raja Mulawarman, upacara tersebut telah dipimpin oleh pendeta Brahmana yang merupakan orang lokal.


Artinya kala itu telah ada kaum Brahmana asli nusantara yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, khususnya penguasaan terhadap bahasa Sansekerta.


• Kehidupan politik


Kudungga (350-375 m)

Asmawarman (375-400m)

Mulawarman (400-446m)

Dharma setia (1534-1605m)


• Kehidupan Ekonomi


kita dapat menentukan bahwa banyak masyarakat kerajaan Kutai bekerja sebagai petani hal ini dikarenakan letak kerajaan Kutai di pinggiran sungai Mahakan, Kalimantan timur membuat tanah subur


banyak masyarakat kerajaan Kutai juga bekerja sebagai peternak, hal ini dibuktikan dengan peninggalan prasasti yupa yang menjelaskan bahwa raja Mulawarman melakukan upacara pengurbanan dan memberikan hadiah kepada para brahmana sejumlah 20.000 ekor sapi


 masyarakat kerajaan kutai dapat berdagang dengan bangsa asing karena letaknya yang tidak jauh dari pantai dan wilayah Kutai dilewati jalur perdagangan yang menghubungkan selat Makasar, Filipina dan china

kerajaan Indonesia (kalingga)

 Kalingga; 

(Jawa tengah) 

Kerajaannya bercorak Hindu dan Budha, masyarakat hidup secara teratur, aman dan tentram, sejarah kerajaan kebanyakan di peroleh dari tingkah (tradisi, kisah setempat, dan paskah Parahyangan). Terdapat prasasti tuk mas dengan huruf pallawa dan sansekerta.

Kehidupan politik;

- Santanu (632-648 sm) ~kejayaan~

- Selendra (648-674 sm) ~kejayaan~

- Sima (674-695 sm) ~kejayaan~

- Dewi Parwati (695-717 sm) ~keruntuhan~

- Narayana ( 717-732) ~keruntuhan~

Keadaan ekonomi; pertanian & perdagangan.



Tuesday, January 23, 2024

Teori masuknya Hindu Budha ke Indonesia


 Di masa perdagangan kuno, wilayah pesisir Sumatera dan Jawa menjadi pusat perdagangan yang cukup besar. Banyak pedagang yang singgah, baik dalam maupun luar negeri. Hal ini karena Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudera. Hal tersebut juga yang menyebabkan Indonesia menjadi daerah yang dilewati jalur perdagangan dan pelayaran internasional.


Adanya perdagangan internasional yang terjadi di Indonesia, muncul beberapa teori mengenai proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia. Lima teori proses masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia tersebut, yaitu:


Teori Waisya

dikemukakan oleh N.J Krom yang menyebutkan proses masuknya kebudayaan Hindu melalui hubungan dagang antara India dan Indonesia.

Kaum pedagang (Waisya) India yang berdagang di Indonesia mengikuti angin musim. Jika angin musim tidak memungkinkan mereka untuk kembali, dalam waktu tertentu mereka menetap di Indonesia. Selama para pedagang India tersebut menetap di Indonesia, mereka memanfaatkannya dengan menyebarkan agama Hindu-Buddha.


Teori Brahmana

diungkapkan oleh Jc. Van Leur yang mengatakan kebudayaan Hindu-Buddha India menyebar melalui golongan Brahmana.

Pendapatnya itu didasarkan pada pengamatan terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia, terutama pada prasasti yang menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Golongan Brahmana dikenal menguasai bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa, sehingga jelas bahwa ada peran Brahmana dalam masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia.


Teori Ksatria

C.C. Berg menjelaskan bahwa golongan ksatria yang turut menyebarkan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Para ksatria India ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Bantuan yang diberikan oleh para ksatria ini sedikit banyak membantu kemenangan bagi salah satu kelompok atau suku di Indonesia yang bertikai.

Sebagai hadiah atas kemenangan itu, ada di antara mereka yang kemudian dinikahkan dengan salah satu putri dari kepala suku atau kelompok yang dibantunya. Dari perkawinannya itu, para ksatria dengan mudah menyebarkan tradisi Hindu-Budha kepada keluarga yang dinikahinya tadi. Selanjutnya berkembanglah tradisi Hindu-Budha dalam kerajaan di Indonesia.

Mookerji juga mengatakan bahwa golongan ksatria dari India yang membawa pengaruh kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia. Para Ksatria ini selanjutnya membangun koloni-koloni yang berkembang menjadi sebuah kerajaan.

Moens J.L. Moens mencoba menghubungkan proses terbentuknya kerajaan- kerajaan di Indonesia pada awal abad ke-5 dengan situasi yang terjadi di India pada abad yang sama. Ternyata sekitar abad ke-5, ada di antara para keluarga kerajaan di India Selatan melarikan diri ke Indonesia sewaktu kerajaannya mengalami kehancuran. Mereka itu nantinya mendirikan kerajaan di Indonesia.


Teori Arus balik

Pendapat ini menjelaskan peran aktif dari orang-orang Indonesia yang mengembangkan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Pendapat mengenai keaktifan orang-orang Indonesia ini diungkap oleh F.D.K Bosch yang dikenal dengan Teori Arus Balik. Teori ini menyebutkan bahwa banyak pemuda Indonesia yang belajar agama Hindu-Buddha ke India. Setelah memperoleh ilmu yang banyak, mereka kembali ke Indonesia untuk menyebarkannya.


Teori Sudra

disampaikan Von Van Faber yang mengatakan bahwa peperangan yang terjadi di India pada saat itu menyebabkan golongan Sudra menjadi buangan. Kemudian mereka meninggalkan India dan mengikuti kaum Waisya dan diduga golongan Sudra yang memberi andil dalam penyebaran budaya Hindu-Buddha ke Indonesia. Karena saat itu jumlah mereka sangta besar. 




Sumber: Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Teori Masuknya Kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2023/01/05/220000669/5-teori-masuknya-kebudayaan-hindu-buddha-ke-indonesia?amp=1&page=2&_gl=1*a8pjuj*_ga*YW1wLWxVNXJNbnRjVl91ck1ZZXJETmxnX2VxR2x4SHY5NG9UWGNoZUpmSFU3TGRpbVVOZWNjbHlRLUF6VTBPOElJQXA.*_ga_77DJNQ0227*MTcwNjA2NzcwMS43LjEuMTcwNjA2NzcwMi4wLjAuMA...